Minggu, 13 April 2008

POTENSI SUMBER ALAM DI BREBES SELATAN

Menghitung Potensi SumberAlam di Brebes Selatan

( Sumber " SUARA MERDEKA " Sabtu, 26 Maret 2005 2005 )

Sejak tahun 1999, wilayah Brebes selatan berkehendak memisahkan diri dari Kabupaten Brebes. Warga di enam kecamatan itu berharap dapat mendirikan sendiri sebuah kabupaten, yang lepas dari Kabupaten Brebes. Untuk mengetahui potensi wilayah selatan itu, wartawan Suara Merdeka Suwandono (Bumiayu) dan Wahidin Soedja (Brebes) menurunkan tulisan berikut ini, yang disunting Sumaryono.

ADA alasan cukup mendasar mengapa sebagian warga Brebes selatan menghendaki pemekaran kabupaten. Mereka ingin daerah itu ditata lebih baik dan tak tertinggal dengan wilayah lain di Brebes utara.

Selain itu sektor pelayanan masyarakat lebih dekat, karena selama ini untuk mengurus surat tertentu. Misalnya akta kelahiran dan sertifikat tanah harus menempuh perjalanan jauh.

Jarak terdekat ibu kota kecamatan di selatan dengan ibu kota kabupaten sekitar 60 km, sedangkan paling jauh Kecamatan Salem berjarak 90 km dari ibu kota kabupaten.

Dari sekian banyak persoalan yang mengemuka dan keyakinan diri akan potensi sumber daya alam (SDA) yang cukup besar itulah, mereka getol ''memproklamasikan'' diri agar secepatnya menjadi kabupaten.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPPM-ITB) bekerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Brebes, wilayah selatan Kabupaten Brebes memiliki potensi sangat besar di bidang SDA.

Antara lain batubara, emas, logam dasar (perak, tembaga, timbal dan seng), batu apung, pasir dan batu (sirtu), batu belah, tanah liat, trass, minyak bumi, dan gas bumi.

Kepala Bappeda Ir H Iskandar SH MM mengatakan, berdasarkan analisis yang dilakukan, baik di lapangan maupun laboratorium, tidak semua potensi tersebut dapat dikembangkan karena ada beberapa yang memiliki kandungan di bawah standar.

Peluang Dikembangkan

''Namun, untuk batu bara yang terdapat di Desa Bentar, Bentarsari, Pabuaran, dan Pasirpanjang, Kecamatan Salem berpeluang untuk dikembangkan, karena kandungannya cukup besar,'' paparnya.

Di wilayah tersebut, kata Iskandar, diperkirakan terdapat cadangan batu bara 903.000 ton, tetapi secara kualitas masih tergolong muda. Meski demikian, dapat dikembangkan menjadi briket batu bara untuk keperluan lokal atau rumah tangga, dan untuk keperluan pembakaran gamping dan gerabah.

Selain batu bara, terdapat pula batu apung di Desa Mendala dan Desa Cilibur, Kecamatan Sirampog.

Kegunaan batu apung antara lain dapat dipergunakan untuk campuran bahan baku semen, bahan beton ringan, bata tahan api, industri keramik, dan bahan pencuci kain.

Di dua desa tersebut diperkirakan terdapat cadangan batu apung 16.000.000 meter kubik. Saat ini bahan itu masih dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai campuran pengganti pasir untuk bangunan rumah.

Sepanjang Kali Pemali yang melintas di wilayah Kecamatan Tonjong dan Bantarkawung terdapat kekayaan alam berupa pasir dan batu (sirtu) yang diperkirakan mencapai 7.002.840 meter kubik.

Endapan sirtu sudah berpuluh tahun dipergunakan masyarakat sekitar sebagai bahan campuran untuk bangunan rumah atau gedung. Termasuk untuk pembuatan jalan dan jembatan.

Potensi batu belah dapat ditemukan di lereng gunung yang tersebar di wilayah Kecamatan Salem, Bantarkawung, Bumiayu, Tonjong, Sirampog, dan Paguyangan. Cadangan batu belah diperkirakan 19.123.140 meter persegi.

''Batu belah dari wilayah enam kecamatan itu pada umumnya dimanfaatkan untuk pembuatan batu split, sebagai bahan cor, bahan fondasi rumah atau jalan,'' ujar seorang warga di Salem.

Endapan trass juga ditemukan di Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog dan Desa Langkap, Kecamatan Bumiayu. Kegunaan trass dapat dipakai sebagai bahan campuran pembuatan batako, konblok, atau sebagai pengganti pasir. Trass yang tersedia dan belum diekploitasi 20.000.000 meter persegi.

Dan, yang paling baru adalah soal penemuan sumber minyak bumi. Saat ini sudah dapat dideteksi adanya rembesan minyak bumi di alur Sungai Cacaban, Desa Tambakserang, Kecamatan Bantarkawung.

Rembesan itu dapat terlihat dengan jelas di batu lanau (lempung pasir) sepanjang alur Sungai Cacaban. Pada batu lanau akan muncul rembesan cokelat kehitaman yang mengisi setiap lapisan batuan yang disebut dengan bitumen padat.

''Untuk mengetahui potensi dan parameter rembesan minyak bumi di daerah ini, diperlukan penelitian lebih lanjut. Namun dari hasil pemetaan, penyebaran bitumen padat terdapat di tiga kecamatan. Yakni Salem, Bantarkawung, dan Bumiayu dan diperkirakan memiliki cadangan cukup besar untuk dieksploitasi,'' kata Iskandar.

Dari sekian banyak potensi sumber alam wilayah Brebes selatan itu, tambah dia, ke depan perlu ditangani secara serius.

Jika perlu menghadirkan investor untuk menanamkan modalnya guna kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. ''Jika itu semua bisa digali secara maskimal, akan mampu menopang pendapat asli daerah sendiri.'' (42s)

BUMIAYU JADI KABUPATEN ?

200 Tokoh Akan Sertai Penyerahan Proposal

( Sumber " SUARA MERDEKA " Rabu, 14 Desember 2005 )

BUMIAYU - Jika tak ada aral melintang, Selasa depan (20/12), Panitia Presidium Pemekaran Kabupaten Brebes akan menyerahkan proposal pemekaran ke DPRD.

Ketua Panitia dokter gigi Rozikin didampingi pengurus lengkap menyerahkannya pada Ketua DPRD H Nasrudin. Mereka disertai 200 tokoh masyarakat dan tokoh agama dari enam kecamatan di Brebes selatan.

"Senin (12/12) lalu kami menghadap dan meminta Ketua DPRD menyediakan waktu untuk menerima proposal pemekaran," ungkap Rozikin, kemarin. Proposal terdiri atas 60 halaman dan memuat alasan pembentukan pemerintahan otonom di Brebes selatan.

Dilampirkan pula satu bendel surat yang berisi 500 lembar pernyataan dukungan, antara lain dari organisasi partai politik tingkat kecamatan, seperti PPP, Golkar, PBR, pondok pesantren, dan sebagian kepala desa.

Menurut dia, 200 orang dari berbagai elemen masyarakat turut serta sekadar untuk menunjukkan dukungan penuh terhadap niat pemekaran di Kabupaten Brebes. Panitia dan warga datang ke DPRD menggunakan beberapa mobil pribadi dan empat bus besar.

Penyerahan proposal sekaligus merupakan babak baru perjuangan warga Brebes selatan. "Sebelumnya, pemekaran hanya sebatas wacana. Baru kali ini secara resmi kami perjuangkan melalui jalur birokrasi," ujarnya.

Ketua DPRD H Nasrudin menyatakan siap menyediakan waktu. Meski demikian, dia akan melihat jadwal kegiatan DPRD pada hari tersebut (Selasa, 20/12).

Apabila ada acara ke luar kota yang mendesak, pihaknya meminta penyerahan diundur. Secara prinsip, pihaknya mendukung perjuangan warga Brebes selatan membentuk pemerintahan sendiri.

Tergantung Pusat

Namun hasilnya bergantung pada Pemerintah Pusat selaku penentu kebijakan. Menindaklanjuti proposal, DPRD akan memanggil eksekutif untuk membahas masalah itu lebih lanjut.

Menurut Rozikin, dukungan Pemkab dan DPRD Brebes sangat diperlukan untuk maju ke tingkat lebih tinggi, yaitu Pemprov dan Depdagri. "Surat dukungan dari Pemkab dan DPRD akan kami lampirkan dalam proposal untuk tingkat Jateng dan pusat," ujarnya.

Anggota Panitia dokter H Faisal Amri SH menambahkan, tugas panitia selesai setelah proposal diserahkan. "Kami sudah melaksanakan tanggung jawab sosial, yaitu menyampaikan usulan pemekaran," ujarnya. Selanjutnya, keputusan diserahkan ke instansi berwenang.

Seperti diketahui, wacana pemekaran Kabupaten Brebes sudah muncul sejak 1960-an. Namun, wacana itu timbul tenggelam seiring perubahan situasi politik.

Aspirasi pemekaran kembali muncul dua tahun terakhir. Kali ini perjuangan pemekaran dilakukan lebih sistematis, yaitu membentuk panitia inti yang diketuai dokter gigi Rozikin dan empat pengurus di tingkat kecamatan, yaitu Kecamatan Bumiayu, Tonjong, Salem, Bantarkawung, Sirampog, dan Paguyangan.(H16-19m)